fbpx

Bagaimana Pembagian Saham untuk Founder Startup?

pembagian saham

Bagaimana Pembagian Saham untuk Founder Startup? Pembagian saham adalah hal yang harus dilakukan jika kamu ingin mendirikan startup. Pasalnya, startup biasanya berbentuk PT persekutuan modal yang harus memiliki setidaknya dua pendiri. Hal ini berbeda dengan usaha mikro kecil dan jenis usaha individu lain yang seluruh kepemilikan usahanya dipegang oleh satu orang saja. Maka dari itu, saham harus dibagi secara adil.

Selain untuk para founder, ada beberapa startup yang juga mengalokasikan saham kepada karyawan dengan persentase yang lebih kecil dalam bentuk Employee Stock Option Plan (ESOP). Lantas sebenarnya, bagaimana pembagian saham untuk founder di perusahaan startup? Berikut penjelasannya.

Pembagian Saham untuk Founder

Membagi saham bukanlah perkara mudah dan tidak boleh dilakukan secara secara asal-asalan. Hal yang perlu dicatat adalah startup bukan soal idealis semata, melainkan juga menyangkut urusan uang yang rawan memicu perselisihan di kemudian hari.

Membangun startup yang sukses dibutuhkan kerja keras, loyalitas, serta waktu dan modal yang tidak sedikit. Dalam perjalanannya, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi, seperti perbedaan tingkat kontribusi antar pendiri hingga adanya founder yang lepas tangan atau hengkang dari perusahaan.

Maka dari itu, pembagian saham perlu didiskusikan sedini mungkin untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan kedepannya. Lebih lanjut, berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembagian saham untuk founder.

 

Pertimbangkan Tingkat Kontribusi Founder

Tidak ada patokan khusus mengenai berapa persen alokasi saham yang akan dibagikan untuk setiap pendiri. Kendati begitu, kamu bisa mempertimbangkan untuk menyesuaikannya dengan peran dan kontribusi mereka, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Tentukan peran apa yang akan dimainkan setiap pendiri dalam mengembangkan perusahaan. Dalam hal ini, kamu perlu melihat keahlian dan pengalaman masing-masing pendiri. Misalnya, pendiri mana yang paling cocok untuk menjadi CEO perusahaan. Sebenarnya, peran dapat berubah seiring berjalannya waktu, tapi langkah ini sangat membantu untuk mengetahui perbedaan peran di tahap awal.

Selain itu, penting juga untuk melihat tingkat risiko yang diambil pendiri. Mereka yang berani mengambil resiko lebih tinggi tidak ada salahnya jika mendapatkan lebih banyak ekuitas.

Bila memang alokasi saham akan dibagi sama rata, peran, tanggung jawab, dan harapan masing-masing pendiri perlu ditentukan sejak dini. Dengan begitu, konflik yang mungkin muncul di masa depan bisa diminimalkan.

 

Gunakan Vesting Period

Vesting Period berguna untuk menentukan kapan pendiri bisa mendapatkan seluruh bagian sahamnya, Sebagai contoh, ada dua pendiri yang mendapatkan saham masing-masing 50 persen dengan vesting period selama 4 tahun. Itu berarti, kedua pendiri tersebut harus bekerja pada perusahaan selama 4 tahun untuk bisa mendapatkan seluruh bagian sahamnya, yakni 50 persen.

Jika baru satu tahun pendiri tersebut memutuskan hengkang dari perusahaan, ia hanya akan mendapatkan 12,5 persen atau 1/4 dari bagian sahamnya. Dengan adanya klausul ini, perusahaan masih bisa menyisakan jatah alokasi saham untuk calon pendiri selanjutnya. Cara ini dinilai lebih adil karena didasarkan pada tingkat kontribusi pendiri awal kepada perusahaan.

 

Contoh Kasus Pembagian Saham di Perusahaan StartUp

Sebuah startup dengan nilai valuasi Rp10 miliar memiliki dua orang pendiri awal, sebut saja si Budi dan si Badu. Si Budi mendapat porsi kepemilikan saham sebesar 50% karena menjabat sebagai CEO, sedangkan Badu 40% karena sebagai CTO.

Adapun 10% sisanya dialokasikan untuk ESOP yang diberikan kepada karyawan awal perusahaan. Jadi, valuasi yang didapatkan untuk masing-masing pihak, yaitu Budi Rp5 miliar, Badu Rp4 miliar, dan ESOP Rp1 miliar.

Pada perkembangannya, ada investor yang berminat membeli 10% saham startup tersebut seharga Rp100 miliar. Dengan begitu, valuasi perusahaan mengalami peningkatan menjadi 1 triliun rupiah. Selain itu, persentase saham untuk para pemegang saham awal tadi berubah menjadi: Budi 45%, Badu 36%, ESOP 9%.

Meskipun persentase saham yang dimiliki pendiri dan karyawan menurun, tetapi nilai valuasinya justru meningkat setelah mendapatkan guyuran dana dari investor. Dalam hal ini, valuasi saham Budi meningkat menjadi Rp 450 miliar, Badu Rp360 miliar, dan ESOP Rp90 miliar.

Nah, itu tadi penjelasan mengenai bagaimana pembagian saham untuk founder di perusahaan rintisan. Namun kembali lagi, hal itu perlu disesuaikan dan didiskusikan dengan para pendiri di startup yang kamu rintis.

Sumber Referensi:

  • https://www.upcounsel.com/how-to-issue-stock-to-founders
  • https://www.upcounsel.com/how-to-allocate-shares-in-a-startup
  • https://www.kaskus.co.id/thread/60681bbfed12c01dac1527c4/pentingnya-vesting-period-bagi-startup-milenial/
  • https://1000startupdigital.id/bagaimana-sebaiknya-pembagian-saham-untuk-founder/

Share Artikel :

Blog Terkait

ECMP Load Balancing

ECMP Load Balancing

Equal-Cost Multi-Path (ECMP) load balancing adalah teknik yang digunakan untuk mendistribusikan lalu

Integrasi OSPF dengan Protokol Lain

Integrasi OSPF dengan Protokol Lain

Integrasi Open Shortest Path First (OSPF) dengan protokol lain adalah strategi penting

Memahami Open Shortest Path First (OSPF) Routing Protocol

Memahami Open Shortest Path First (OSPF) Routing

Open Shortest Path First (OSPF) adalah salah satu protokol routing yang paling